TIMES BENGKULU, TEGAL – Hujan turun tanpa jeda sejak Selasa (27/1/2026) pagi, Di sebuah desa Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal, suara air menghantam atap seng bercampur dengan bunyi tanah yang perlahan retak.
Bagi sebagian warga, malam bukan lagi waktu beristirahat, melainkan saat berjaga. Mereka khawatir, tanah di lereng belakang rumah kembali bergerak seperti hari-hari sebelumnya.
Bumijawa, kecamatan dengan 18 desa di kawasan pegunungan dan perbukitan Kabupaten Tegal, hidup berdampingan dengan risiko.
Saat hujan datang, warga tidak hanya memikirkan ladang dan ternak, tetapi juga keselamatan keluarga mereka. Di wilayah seperti ini, bencana bukan kabar jauh, ia bisa terjadi kapan saja.
Di tengah situasi itu, sebuah jeep berwarna kuning perlahan menanjak melewati jalan sempit dan licin. Lampunya menembus kabut, berhenti di depan rumah-rumah warga.
Dari dalam Jeep berwarna kuning dengan roda type untuk off road turun Muhammad Sihabuddin, Camat Bumijawa yang baru menjabat setelah gelaran lepas sambut dengan pejabat sebelumnya.
Sihabuddin memilih menggunakan jeep, bukan motor trail. Baginya, kendaraan itu lebih aman dan memungkinkan membawa orang lain serta bantuan.
Bahkan saat berbincang dengan Times Indonesia, ia mengatakan bahwa di medan pegunungan Bumijawa rawan longsor ini, kecepatan bukan segalanya keselamatan dan daya jangkau jauh lebih penting.
Beberapa hari terakhir, intensitas hujan meningkat tajam. Sejumlah titik mengalami pergerakan tanah yang mengancam permukiman dan akses jalan desa.
Bagi warga, rasa cemas itu berlapis takut kehilangan rumah, takut terisolasi, dan takut tak ada yang datang saat mereka membutuhkan bantuan.
Sihabuddin memahami kegelisahan itu. Ia menegaskan pemerintah kecamatan tidak boleh hanya menunggu laporan di balik meja. Kehadiran langsung di lapangan menjadi cara untuk memastikan bahwa warga tidak merasa sendirian menghadapi ancaman alam.
“Lusa kami akan mulai menyambangi dan membantu warga terdampak tanah bergerak. Mereka harus lebih diutamakan,” tegasnya.
Jeep yang dikendarainya kerap berisi lebih dari sekadar pejabat. Ada perangkat kecamatan, relawan, hingga logistik ringan. Di jalur berbatu, kendaraan itu menjadi ruang diskusi darurat membahas lokasi rawan, jalur evakuasi, hingga kebutuhan paling mendesak warga.
Di balik percakapan sederhana, menurut Sihabuddin bahwa ada rasa dihargai dan diperhatikan. Di wilayah pegunungan, jarak bukan hanya soal kilometer, tapi juga soal perhatian. Ketika pemimpin hadir, jarak itu terasa menyempit.
Selain penanganan darurat, Sihabuddin menaruh perhatian besar pada upaya pencegahan. Ia mendorong edukasi kebencanaan, pemetaan wilayah rawan, serta penguatan koordinasi dengan desa dan relawan lokal.
Menurutnya, hidup di daerah rawan bukan berarti pasrah, tetapi belajar beradaptasi dan terus mengali solusi agar masyarakat tak gelisah. “Alam tidak bisa dilawan. Yang bisa kita lakukan adalah memahami tanda-tandanya dan bersiap lebih awal,” ujarnya.
Di tengah ancaman longsor dan cuaca yang tak menentu, kehadiran itu menjadi penguat: bahwa saat keadaan sulit, ada yang datang, mendengar, dan berusaha bersama mereka.
Di wilayah Bumijawa Kabupaten Tegal, kepemimpinan tak diukur dari jarak aman, tetapi dari keberanian hadir di jalur terberat tepat ketika warga paling membutuhkan.
Di sela perbincangan, Sihabuddin juga mengajak warga masyarakat Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal untuk bijak dalam menggunakan media sosial.
"Kami juga mengajak seluruh masyarakat di Kecamatan Bumijawa untuk tetap bijak dan tidak mudah terprovokasi, jadi sebelum share alangkah baiknya lakukan sharing terlebih dahulu agar lebih bermanfaaf," terang Sihabuddin camat baru Kecamatan Bumijawa. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Gercep, Camat Bumijawa Tegal Pilih Jeep untuk Benahi Lingkungan di Tengah Ancaman Longsor
| Pewarta | : Cahyo Nugroho |
| Editor | : Ronny Wicaksono |