Doa Rais 'Aam PBNU di Puncak Hari Santri 2023, Ini Harapanya
TIMES Bengkulu/Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Miftachul Akhyar saat memimpin doa di Apel Hari Santri 2023. (Foto: Kemenag RI)

Doa Rais 'Aam PBNU di Puncak Hari Santri 2023, Ini Harapanya

Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Miftachul Akhyar didapuk memimpin pembacaan ...

TIMES Bengkulu,Minggu 22 Oktober 2023, 10:14 WIB
498.9K
R
Rudi Mulya

SURABAYARais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Miftachul Akhyar didapuk memimpin pembacaan doa pada Apel Hari Santri 2023 di Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (22/10/2023) pagi.

Kiai Miftachul Akhyar memimpin pembacaan doa ini dengan dua bahasa. Ia mengawalinya dengan bahasa Arab. Setelah itu, harapan-harapan dalam doa tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. 

Dalam doanya, Kiai Miftach memanjatkan harapan agar hati para ulama dan umat Islam dapat bangkit dari tidur dan kelalaian yang panjang. 

"Ya Allah bangunkanlah hati para ulama dan umat Islam dari tidurnya, dari kelalaiannya yang dalam dan berkepanjangan. Dan tunjukilah mereka ke jalan petunjuk-Mu,"  

"Ya Allah. Ya Allah. Ya Allah yang maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Hidupkanlah jam'iyah kami, jam'iyah Nahdlatul Ulama, dengan kehidupan thayyibah, kehidupan yang baik dan ideal sesuai kehendak-Mu," harapan dalam doa Kiai Miftach saat Apel Hari Santri 2023.

"Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung senang kepada mereka, dan berikanlah rezeki dari macam-macam kebutuhan-kebutuhan yang mereka butuhkan. Mudah-mudahan mereka bersyukur," 

"Dan karuniakanlah mereka rizki kekuatan yang mengalahkan kebatilan kezaliman, ketidaksenonoan, dan keburukan agar mereka bertakwa," sambung Kiai Miftach. 

article

"Dan anugerahilah para pemimpin kami negara kami kemakmuran dan kesejahteraan penuh dengan kemakmuran yang makmur dengan kesejahteraan," katanya.

Mengawali doanya, Kiai Miftach memuji Allah dengan menyebut asma-asma-Nya yang mulia. Hal ini seraya diiringi dengan kalimat-kalimat yang menunjukkan penghambaan, bahwa harapan dan doa itu disandarkan hanya pada Allah.

"Ya Allah, aku bermohon pada-Mu, dengan rahmat-Mu yang memenuhi segala sesuatu, dengan kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu, dan karenanya merunduk segala sesuatu," katanya. 

"Dengan kemuliaan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu, dengan kekuatan-Mu yang tak tertahankan oleh segala sesuatu, dengan kebesaran-Mu yang memenuhi segala sesuatu dengan kekuasaanmu yang mengatasi segala sesuatu dengan Dzat-Mu yang kekal setelah punahnya segala sesuatu dengan asmamu yang memenuhi tonggak segala sesuatu, dengan ilmu-Mu yang mencakup segala sesuatu dengan cahaya Dzat-Mu yang menyinari segala sesuatu," lanjutnya. 

Wujud penghambaan dalam doa itu juga ditunjukkan dengan pernyataan kelemahan dan kehinaan diri di hadapan Allah swt. "Ya Allah, ya Tuhan kami. Kami mengadu kepada-Mu. Betapa lemahnya kekuatan kami, betapa sedikitnya hailah (daya upaya) kami dan betapa hinanya kami pada pandangan manusia."

"Ya Tuhan yang Maha Penyayang, yang mengatasi segala yang menyayangi Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau ada Tuhan kami kepada siapa engkau serahkan diri kami ini, kepada orang yang jauh yang memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang ingin menguasai diri kami," ujarnya. 

Kiai Miftach menegaskan bahwa pemberian maaf dari Allah atas segala kesalahan yang hamba lakukan jauh lebih luas.

 "Jika tiada murka-Mu terhadap diri kami, kami tidak peduli tapi kemaafanmu lebih luas kepada kami," kata Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur itu.

Lebih lanjut, Kiai Miftach juga menyampaikan permohonannya untuk berlindung dengan cahaya Allah yang menjadikan baik segala urusan dunia dan akhirat. 

"Kami berlindung dengan cahaya Dzat-Mu yang telah engkau pancarkan ke arah segala kegelapan menjadi baiklah di atasnya segala urusan dunia dan akhirat," ujarnya. 

Kiai yang kini berusia 70 tahun itu juga memohon perlindungan dari kemurkaan Allah.

article
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bersama Eny Retno Yaqut khusyuk mengamini doa Rais 'Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar di Apel Hari Santri 2023. (Foto: Kemenag RI)

"Kami berlindung daripada turunnya kepada kami murkaMu atau berlakunya kepada atas kami murkaMu," katanya. Sebab, hanya kepada Allah-lah, pengaduan yang sungguh-sungguh sehingga mencapai keridaan-Nya. "Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan-Mu," lanjutnya.

 Penghambaan juga ditunjukkan dengan pernyataan diri sebagai orang faqir dan bodoh. 

"Ya Allah ilahana kami adalah fakir di saat orang lain menganggap kami kaya. Kami tidak bisa membayangkan betapa makin fakirnya kami manakala orang lain yakin kami ini betul-betul fakir," ujarnya.

"Ya Rabb. Ilahana (Tuhan kami). Kamilah orang yang jahil (bodoh) di saat kami menyandang gelar ilmuwan betapa hal ini tiada lebih jahil manakala nyata-nyata kami jahil," katanya.

"Ya Rabbana Ilahana, silih bergantinya ketetapan-mu dan cepat sampainya takdir-Mu itu semua telah membuat orang-orang Arif menahan diri dari rasa puas atas sebuah pemberian dan menahan jauh rasa putus asa dalam bingkai cobaan-Mu," pungkas Kiai Miftach dalam doanya di Apel Hari Santri 2023.  (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Rudi Mulya
|
Editor:Bambang H Irwanto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bengkulu, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.