Nyadran Kampung Bener 2026 Yogyakarta, Kirab Budaya Penguat Kerukunan Lintas Iman
Berpusat di kawasan Masjid Muqorrobin Bener dan Makam Sasono Ngasem, ratusan warga tumpah ruah mengikuti rangkaian acara yang telah dipersiapkan sejak jauh hari.
YOGYAKARTA – Tradisi Nyadran kembali menggema dengan nuansa khidmat sekaligus meriah di Kampung Bener, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, pada tahun 2026 kali ini.
Berpusat di kawasan Masjid Muqorrobin Bener dan Makam Sasono Ngasem, ratusan warga tumpah ruah mengikuti rangkaian acara yang telah dipersiapkan sejak jauh hari.
Tak sekadar ritual doa, Nyadran Kampung Bener tahun ini tampil lebih semarak dengan balutan kirab budaya yang menjadi magnet perhatian warga.
Arak-arakan budaya tersebut menghadirkan beragam elemen khas tradisi Jawa, mulai dari Punakawan, Bregodo Rakyat, gunungan sayuran, gunungan kolak, ketan, dan apem, hingga ingkung dan lantunan hadrah.
Kirab yang melibatkan masyarakat ini sukses menghadirkan suasana sakral sekaligus penuh kegembiraan. Antusiasme masyarakat Kampung Bener tampak nyata dari keterlibatan aktif warga dalam setiap tahapan acara.
Sejak pagi, warga bergotong royong menyiapkan aneka uborampe Nyadran, seperti apem, ketan, dan kolak, yang nantinya disantap bersama usai doa bersama. Kebersamaan ini menjadi gambaran kuatnya nilai sosial dan budaya yang masih hidup dan terawat di tengah masyarakat.
Ketua Panitia Nyadran Kampung Bener, Muryono, menuturkan bahwa tradisi Nyadran di wilayahnya memiliki sejarah panjang. Tradisi ini pertama kali digelar pada tahun 1977, namun sempat vakum hampir 25 tahun seiring menua dan berkurangnya para penggagas awal.
“Nyadran Kampung Bener ini kami hidupkan kembali dengan dukungan Takmir Masjid Muqorrobin. Sempat berhenti lagi pada 2019 hingga 2022 karena pandemi Covid-19, lalu mulai berjalan kembali pada 2023.
Tahun 2026 ini terasa istimewa karena kami lengkapi dengan pawai budaya, dan respons warga luar biasa positif,” jelas Muryono, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, Nyadran bukan sekadar tradisi, tetapi warisan budaya Jawa yang sarat makna spiritual. Melalui Nyadran, masyarakat diajak untuk eling marang Gusti Allah, sekaligus mendoakan arwah leluhur yang telah mendahului.
Tema 'Eling lan Waspodo' Perkuat Kerukunan Lintas Agama
Tahun ini, Nyadran Kampung Bener mengusung tema 'Eling lan Waspodo, Donga Bareng, Paseduluran Langgeng'.
Tema tersebut menegaskan nilai kewaspadaan spiritual, doa bersama, dan persaudaraan yang abadi di tengah keberagaman.
Menariknya, doa bersama dalam tradisi Nyadran ini diikuti oleh warga lintas agama. Selain umat Muslim, warga Katolik dan Kristen turut hadir dan berbaur dalam suasana penuh toleransi.
“Alhamdulillah, semua warga bisa rawuh dan menyatu. Ini bukti nyata kerukunan antarumat beragama di Kampung Bener tetap terjaga dengan baik,” ujar Muryono.
Dorong Keterlibatan UMKM dan Kesenian Lokal
Ke depan, panitia Nyadran Kampung Bener berharap tradisi ini dapat terus berkelanjutan dan berkembang.
Amanah dari Lurah Bener menjadi dorongan kuat untuk melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, mulai dari UMKM, kesenian lokal, Pokdarwis, hingga generasi muda, agar dampaknya semakin luas.
Salah satu warga Kampung Bener, Sri Susilowati, mengaku bersyukur dengan konsep Nyadran tahun ini yang dinilai lebih segar dan inovatif.
“Nyadran kali ini sangat berkesan karena dipadukan dengan budaya. Tidak monoton, ada pawai dan kesenian. Harapan kami, ke depan bisa lebih baik dan lebih meriah lagi,” ungkapnya.
Ia juga berharap potensi seni lokal seperti hadrah, jatilan, dan sanggar tari dapat terus dilibatkan. Menurutnya, kehadiran Bregodo Yudhotomo sebagai cucuk lampah pawai menjadi langkah awal yang baik dalam pengembangan seni budaya lokal Kampung Bener.
Pemerintah Apresiasi Pelestarian Kearifan Lokal
Sementara itu, Mantri Pamong Praja Kemantren Tegalrejo, Antariksa Agus Purnama, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Nyadran Kampung Bener yang dinilai berhasil menghadirkan konsep baru dengan pelibatan masyarakat yang lebih luas.
“Konsep Nyadran tahun ini berbeda dan lebih inklusif. Warga tidak hanya datang ke makam, tetapi ikut dalam seluruh rangkaian prosesi. Ini membuat pelaksanaannya lebih bermakna,” ujarnya.
Menurut Antariksa, Nyadran merupakan bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang harus terus dijaga dan diwariskan. Tradisi ini menjadi media pembelajaran nilai-nilai luhur dari generasi tua kepada generasi muda.
“Esensi Nyadran adalah doa bersama yang dikemas dalam silaturahmi warga. Harapannya, generasi muda semakin terlibat, sehingga suatu saat merekalah yang melanjutkan peran para sesepuh dengan konsep yang relevan dengan zamannya,” jelasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




