Lumpia Rebung Ayam Borobudur, UMKM Rumahan Magelang yang Bisa Dinikmati Melalui 'PO'
Dengan semangat wirausaha yang terus menyala di tengah persaingan, Dewi Rahmayany merintis usaha lumpia rebung ayam di kawasan Borobudur Magelang.
MAGELANG – Usaha kuliner rumahan kini menjadi pilihan banyak ibu rumah tanggal sebagai alternatif menambah penghasilan keluarga. Salah satunya dijalani Dewi Rahmayany, pelaku usaha lumpia rebung ayam di kawasan Borobudur Kabupaten Magelang.
Lahir di Subang pada 8 Desember 1972, ia kini menetap di Dusun Kenayan RT 02, RW 15 dan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga dengan semangat wirausaha yang terus menyala di tengah persaingan.
Berawal dari hobi memasaknya, perempuan atau yang akrab disapa Bu Dewi ini, mulai mencoba membuat lumpia setelah belajar dari seorang teman.
Dari dapur rumahnya, ia mengolah rebung dan ayam menjadi isian lumpia yang sederhana namun bercita rasa khas.
“Awalnya saya belajar dari teman, lalu coba bikin sendiri di rumah,” terang Dewi pada TIMES Indonesia, Selasa (10/1/2026).

Keputusan memilih lumpia sebagai usaha sampingan bukan tanpa pertimbangan. Menurutnya, di wilayah Borobudur masih jarang penjual lumpia, sehingga peluang pasarnya cukup terbuka.
“Di Borobudur jarang orang bikin lumpia, itu yang bikin saya berani untuk mulai,” katanya.
Hingga kini, Dewi hanya memproduksi satu varian, yakni lumpia rebung ayam. Fokus pada satu menu dilakukan agar kualitas rasa tetap terjaga.
“Untuk sementara cuma satu macam, lumpia rebung ayam. Itu juga yang paling disukai pelanggan,” tuturnya.
Dalam memasarkan produknya, ia mengandalkan WhatsApp dan promosi dari mulut ke mulut. Sistem penjualan pun dibuat sederhana dengan membuka open pre-order seminggu sekali, sehingga tidak mengganggu aktivitas utamanya sebagai ibu rumah tangga.
“Saya atur jadwalnya, seminggu sekali open PO, biar waktunya bisa kebagi,” jelasnya.
Menyiasati Tantangan
Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah ketersediaan bahan baku rebung yang bersifat musiman. Selain itu, keterbatasan alat penyimpanan juga menjadi kendala.
“Rebung itu musiman, kadang ada kadang tidak. Saya juga belum punya freezer,” ungkapnya.
Untuk mengatasi keterbatasan yang ada dan menjaga kualitas rasa, Dewi memilih membeli rebung di pasar Borobudur.
"Saya beli langsung di pasar, jadi rebungnya tetap segar dengan cara ini kualitas rasa tetap terjaga," jelas Dewi.
Meski begitu, respons pelanggan sejauh ini cukup menggembirakan. “Puji Tuhan, semua responnya baik, pesanan juga selalu ada,” imbuhnya.
Selain lumpia, ia juga menerima pesanan snack dan nasi dus untuk acara selamatan. "Untuk varian menu dan harga, tentu bersahabat, bisa dibicarakan sebelum pesanan dibuat," lanjutnya.
Dewi memiliki harapan besar terhadap usahanya. Ia mempunyai mimpi, suatu hari nanti bisa berjualan di pinggir jalan atau membuka warung kecil miliknya sendiri.
“Kalau punya rezeki, saya ingin punya warung dan rebungnya bisa ready setiap hari, tidak musiman lagi,” ujarnya penuh harap.
Menutup perbincangan, Dewi meneruskan semangatnya kepada para generasi muda yang ingin memiliki usaha.
"Jangan malu untuk mulai berusaha, dan jangan cepat patah semangat kalau belum laris seperti yang diharapan,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



